FAUNA    |    HIBURAN    |    SEJARAH    |   Cari Artikel...

15 November 2012

Perang Yom Kippur, Misi Pemulihan Harga Diri Negara-Negara Arab




Tank Israel di dekat rombongan tentara yang terluka semasa
Perang Yom Kippur masih berlangsung. (Sumber)

Oke, satu lagi artikel dari pihak Republik yang menyinggung soal konflik Arab-Israel. Kalau dulu pihak Republik pernah membahas soal Perang 6 Hari, maka pada artikel kali ini pihak Republik akan mengulas soal Perang Yom Kippur. Adapun selain dengan nama Perang Yom Kippur, perang ini juga dikenal dengan nama lain Perang Arab-Israel 1973, Perang Arab-Israel ke-4, Perang Oktober, & Perang Ramadhan. Soal kenapa perang tersebut bisa mendapatkan nama-nama demikian, jawabannya bisa ditemukan pada penjelasan di paragraf-paragraf berikutnya.

Perang Yom Kippur (Yom Kippur War) adalah konflik bersenjata yang terjadi pada bulan Oktober 1973 antara Israel melawan Mesir & Suriah. Dalam peperangan tersebut, Mesir & Suriah juga mendapat bantuan personil militer dari negara-negara Arab sekutunya seperti Irak, Yordania, Aljazair, Tunisia, & Libya. Perang Yom Kippur juga kerap disebut-sebut sebagai salah satu fase paling kritis dalam Perang Dingin karena adanya ancaman intervensi langsung dari Uni Soviet yang memihak negara-negara Arab untuk menekan Amerika Serikat (AS) yang selama ini berada di belakang Israel sehingga memunculkan kemungkinan akan meletusnya perang antara 2 negara adidaya.

Perang Yom Kippur mendapatkan nama demikian karena tanggal dimulainya perang tersebut (6 Oktober 1973) bertepatan dengan hari Yom Kippur, hari suci dari umat Yahudi. Negara-negara Arab memulai perang pada tanggal tersebut dengan harapan bisa memanfaatkan kelengahan Israel yang para personil militernya sedang berlibur & berpuasa. Menariknya, bukan hanya kaum kaum Yahudi Israel yang sedang berpuasa pada hari itu. Para personil militer negara-negara Arab yang beragama Islam juga melaksanakan puasa karena tanggal tersebut juga bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga perang tersebut juga dikenal dengan nama lain "Perang Ramadhan".



LATAR BELAKANG

Peta dari Israel sesudah Perang
Enam Hari di tahun 1967.
Tahun 1948, komunitas pemukim Yahudi di Palestina memproklamasikan berdirinya negara Israel. Proklamasi tersebut langsung mendapat penolakan dari negara-negara Arab yang menganggap pembentukan Israel sebagai ilegal karena proklamasi tersebut dikumandangkan sebelum masalah sengketa wilayah antara orang-orang Yahudi & Arab Palestina yang sudah berlangsung sejak permulaan abad ke-20 benar-benar terselesaikan. Sebagai bentuk penolakan lebih lanjut, negara-negara Arab juga menginvasi wilayah Israel pada tahun yang sama.

Setahun kemudian alias pada tahun 1949, perang akhirnya berhenti, namun masalah sengketa antara Israel dengan komunitas Arab tetap belum terselesaikan. Sebagai akibatnya, beberapa tahun kemudian atau tepatnya pada bulan Juni 1967, Israel kembali terlibat perang melawan negara-negara Arab yang terdiri dari Mesir, Suriah, & Yordania. Dalam perang yang berlangsung selama 6 hari tersebut, Israel secara mengejutkan keluar sebagai pemenang & bahkan sukses mencaplok wilayah lawan-lawannya. Negara-negara Arab di lain pihak merasa tertampar akan kekalahan tersebut & bertekad untuk kembali mendapatkan wilayahnya yang hilang akibat perang.

Sejak bulan Juli 1967 alias hanya sebulan sesudah berakhirnya Perang 6 Hari, Mesir & Yordania kembali terlibat konflik bersenjata dengan Israel dalam serangkaian pertempuran yang dikenal dengan sebutan "Perang Pengurangan" (War of Attrition). Dalam perang tersebut, Mesir & Yordania juga dibantu oleh angkatan udara Uni Soviet. Saat Perang Pengurangan masih berlangsung, negara-negara Arab & Israel di lain tempat juga terlibat pembicaraan damai untuk mencari solusi mengenai nasib wilayah-wilayah taklukan Israel seusai Perang 6 Hari.

Anwar Sadat. (Sumber)
Tahun 1970, Gamal Abdul Nasser selaku presiden Mesir meninggal akibat serangan jantung. Posisinya lalu digantikan oleh wakil presidennya, Anwar El-Sadat, yang setuju untuk mengakhiri Perang Pengurangan tak lama berselang. Sepintas kondisi Timur Tengah terlihat akan membaik pasca berakhirnya Perang Pengurangan. Namun menyusul gagalnya perundingan antara Mesir & Israel menyusul penolakan Israel untuk mengembalikan Semenanjung Sinai ke tangan Mesir, situasi pun mulai memanas kembali setelah Sadat mengancam bahwa perang melawan Israel tak terhindarkan lagi.

Tahun 1972, Mesir membeli sejumlah besar roket SCUD, rudal anti udara, & pesawat tempur MiG dari Uni Soviet. Pada periode yang bersamaan, Sadat juga berkunjung ke sejumlah negara Afrika & Eropa untuk menggalang dukungan. Intelijen dari Israel di lain pihak berpikir bahwa Mesir & Suriah tidak akan berani memulai peperangan karena kondisi militer kedua negara tersebut dianggap tidak sedang dalam kondisi siap tempur sehingga Israel pun merasa bahwa ancaman perang dari Mesir tidak lebih dari sebatas gertak sambal. Namun, waktu membuktikan bahwa ternyata perkiraan Israel tersebut adalah salah besar...



BERJALANNYA PERANG

Front Utara (Israel Versus Suriah)

Tanggal 6 Oktober 1973, Mesir & Suriah melakukan serangan mendadak secara serentak ke wilayah perbatasan Israel. Jika Mesir menyerang dari tepi barat Terusan Suez, maka Suriah menyerang dari sisi timur Dataran Tinggi Golan. Dalam serangan pembukanya, Suriah melancarkan pemboman besar-besaran dengan memakai pesawat tempur & meriam artilerinya. Tak lama kemudian, puluhan ribu tentara Suriah yang disokong oleh basis pertahanan anti udara, buldozer, & kendaraan penyapu ranjau bergerak menerobos garis pertahanan Israel.

Terjepit perang dalam 2 front sekaligus, Israel menjadikan front Golan sebagai prioritas utamanya karena kedekatan Golan dengan kota-kota besar Israel. Para tentara cadangan yang sedang berlibur & berpuasa di rumahnya masing-masing dipanggil untuk membantu menambah jumlah tentara Israel yang sedang bertempur di Golan. Pesawat-pesawat tempur Israel juga dikirim untuk menghentikan laju pergerakan pasukan Suriah, namun keberadaan basis pertahanan udara milik pasukan Suriah membuat Israel harus kehilangan begitu banyak pesawat tempurnya.

Tank-tank Suriah. (Sumber)
Pasukan Suriah mengirimkan begitu banyak tank-tank miliknya untuk menerobos garis pertahanan Israel. Pasukan Israel di lain pihak mencoba menahan laju pasukan Suriah sekuat tenaga dengan memanfaatkan kondisi Golan yang berupa dataran tinggi dengan jalan-jalan sempit. Hasilnya, pasukan Israel berhasil menghancurkan tank-tank Suriah dalam jumlah besar dengan memakai tank & kendaraan artileri miliknya. Namun karena faktor keunggulan dalam hal jumlah tentara & kendaraan tempur, pasukan Suriah pada akhirnya sukses menembus lapis pertama dari garis pertahanan Israel.

Tanggal 9 Oktober, pasukan Suriah selaku pasukan penyerbu yang sudah digempur habis-habisan oleh pasukan pertahanan Israel akhirnya mulai melemah setelah kehilangan begitu banyak tanknya. Sadar akan kondisi tersebut, pasukan darat Suriah akhirnya mulai ditarik mundur dari garis depan peperangan. Kendati demikian, di tanggal yang sama pasukan Suriah masih sempat menghancurkan pangkalan udara & rumah-rumah penduduk dengan memakai pesawat tempurnya. Serangan udara Suriah tersebut lantas dibalas oleh Israel dengan mengirimkan pesawat tempurnya untuk menghancurkan gedung Markas Staf Jenderal Suriah di Damaskus, ibukota Suriah.

Tanggal 10 Oktober, seluruh pasukan Suriah sudan meninggalkan Dataran Tinggi Golan. Perdebatan pun muncul di antara pejabat & petinggi militer Israel mengenai apakah sebaiknya Israel berhenti berperang atau mengirimkan pasukannya ke wilayah Suriah. Pilihan kedua akhirnya diambil & sehari kemudian, pasukan Israel digerakkan ke perbatasan Israel-Suriah, menuju ibukota Damaskus. Tanggal 12 Oktober, pasukan penerjun payung Israel yang menyusup ke dalam wilayah Suriah sukses menghancurkan jembatan yang menghubungkan Suriah, Yordania, & Irak sehingga suplai logistik pasukan ketiga negara tersebut di medan perang menjadi terhambat.

Pesawat tempur Israel. (Sumber)
Memasuki tanggal 22 Oktober, Suriah yang dibantu oleh Irak & Yordania berencana melancarkan serangan balik besar-besaran. Namun menyusul munculnya gencatan senjata yang diserukan oleh PBB pada hari sebelumnya, Suriah memutuskan untuk membatalkan rencana tersebut. Namun di hari berikutnya, pertempuran udara yang sengit sempat terjadi antara pesawat-pesawat tempur Israel & Suriah di mana pertempuran tersebut menghancurkan fasilitas-fasilitas umum di dekat Damaskus seperti jalan raya, jembatan, & pembangkit listrik. Untungnya, pertempuran tersebut tidak berlanjut lebih jauh & Perang Yom Kippur di front utara (Suriah) pun berakhir di hari yang sama.


Front Selatan (Israel Versus Mesir)

Di hari yang sama saat Suriah menginvasi Israel, pasukan Mesir menyerbu garis pertahanan Israel di sisi timur Terusan Suez yang dilindungi oleh tembok pasir raksasa. Untuk menghancurkan tembok pasir tersebut, pasukan Mesir mengerahkan meriam-meriam air dalam jumlah besar sehingga tembok pasir tersebut bisa dijebol dengan mudah. Tak lama kemudian, pesawat-pesawat udara pasukan Mesir melakukan pengeboman besar-besaran untuk melumpuhkan jaringan pertahanan militer Israel. Beberapa jam kemudian, puluhan ribu pasukan Mesir mulai mendirikan jembatan di atas Terusan Suez & melakukan penyeberangan besar-besaran ke sisi timur Terusan.

Israel sempat mengirimkan pesawat-pesawat tempurnya untuk menghentikan pergerakan pasukan Mesir, namun serangan udara Israel tersebut berhasil ditangkis oleh basis pertahanan udara milik pasukan Mesir. Sadar bahwa Israel tak bisa lagi memanfaatkan keunggulan pasukan udaranya seperti halnya dalam Perang 6 Hari terdahulu, Israel lantas mengerahkan pasukan daratnya yang sedang berada di dekat Terusan Suez untuk menghentikan laju pasukan Mesir. Israel juga memanggil para tentara cadangannya yang saat itu sedang tidak bertugas karena sedang merayakan hari Yom Kippur di kediamannya masing-masing.

Tentara Mesir saat menyeberangi
Terusan Suez. (Sumber)
Tanggal 7 Oktober, pasukan Mesir terlibat pertempuran dengan pasukan lapis baja Israel. Dengan bantuan roket-roket anti tank dalam jumlah besar yang dimilikinya, pasukan Mesir berhasil menghancurkan ratusan tank Israel & kemudian melanjutkan pergerakannya lebih jauh ke dalam Semenanjung Sinai. Memasuki tanggal 9 Oktober, pasukan Mesir yang sebelumnya bisa bergerak perlahan tapi pasti menghentikan pergerakannya pada tanggal ini. Mesir khawatir kalau mereka bergerak keluar dari jangkauan misil basis-basis pertahanan udaranya, pasukan mereka akan menjadi sasaran empuk angkatan udara Israel.

Tanggal 14 Oktober, Mesir mencoba keluar dari zona jangkauan misil anti udaranya dengan melancarkan gelombang invasi ke arah timur di mana komposisi pasukan penginvasi tersebut didominasi oleh kendaraan lapis baja. Tindakan tersebut belakangan menjadi bencana karena saat pasukan mereka dicegat oleh pasukan Israel, Mesir kehilangan lebih dari 400 kendaraan lapis baja & 1.000 orang tentaranya. Salah satu penyebab kemenangan Israel dalam pertempuran tersebut tidak lepas dari taktik serangan Mesir yang terlalu monoton & datangnya bala bantuan bagi pasukan Israel dari Golan, Israel utara.

Sehari usai keberhasilan mereka mematahkan invasi pasukan Mesir, Israel berbalik menjadi pihak penyerbu. Pasukan Israel bisa bergerak secara leluasa untuk menyeberangi Terusan Suez & memasuki wilayah Mesir karena sebagian besar pasukan Mesir di Sinai sudah hilang pasca pertempuran di hari sebelumnya. Dalam pergerakannya, pasukan udara Israel juga melancarkan serangan udara bertubi-tubi ke basis-basis pertahanan udara milik Mesir sehingga Mesir terpaksa menarik mundur basis-basis pertahanan udara miliknya untuk mencegah timbulnya kerugian lebih jauh.

Tank Israel. (Sumber)
Sejak tanggal 17 Oktober, pasukan Mesir beberapa kali melancarkan serangan balik untuk mengusir pasukan Israel keluar dari wilayah Mesir, namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Sebagai akibatnya, pasukan Israel pun bisa terus memperluas wilayah taklukannya di sisi barat Terusan Suez walaupun selama berjalannya penaklukan, Israel juga harus menanggung korban jiwa yang tidak sedikit. Baru memasuki tanggal 22 Oktober, pergerakan pasukan Israel bisa dibendung setelah pasukan Israel gagal mengalahkan pasukan Mesir dalam pertempuran di sebelah selatan kota Ismailia.

Di tanggal yang sama, PBB sebenarnya sudah mengeluarkan Resolusi 338 yang isinya meminta Mesir & Israel berhenti berperang. Kedua belah pihak sepakat untuk berhenti berperang, namun sehari kemudian perang kembali meletus setelah Mesir & Israel saling menuduh bahwa lawannya melanggar kesepakatan gencatan senjata terlebih dahulu. Dalam pergerakannya, pasukan Israel berhasil menguasai sisi barat daya Terusan Suez & bersiap menyerang pasukan Mesir di sisi timur Terusan Suez. Namun, rencana tersebut tidak pernah terwujud setelah pada tanggal 25 Oktober, gencatan senjata kembali diberlakukan sehingga Perang Yom Kippur pun secara resmi berakhir.



KONDISI PASCA PERANG

Walaupun tidak sampai kalah, Perang Yom Kippur oleh Israel dianggap sebagai aib & kegagalan. Dasar utamanya adalah karena Israel sempat kerepotan di hari-hari awal perang & tingginya jumlah korban tewas jika dibandingkan dengan perang-perang yang diikuti Israel sebelumnya. Sebagai perbandingan, jika di Perang 6 Hari jumlah korban tewas Israel tidak sampai 1.000 orang, pada Perang Yom Kippur Israel kehilangan lebih dari 2.000 tentaranya. Sebagai akibatnya, Perdana Menteri Israel, Golda Meir, memutuskan untuk mengundurkan diri seusai perang.

Pemimpin Mesir, AS, & Israel
dalam peresmian Perjanjian
Camp David. (Sumber)
Di pihak yang berseberangan, Perang Yom Kippur oleh negara-negara Arab dianggap sebagai kesuksesan besar. Sesudah kekalahan mereka dalam Perang 6 Hari, moral masyarakat Arab berada dalam salah satu titik terendahnya. Namun keberhasilan mereka mengimbangi pasukan Israel dalam Perang Yom Kippur menumbuhkan kembali kepercayaan diri masyarakat Arab sekaligus mematahkan mitos bahwa pasukan Israel adalah pasukan yang tidak bisa dikalahkan. Di Mesir & Suriah, tanggal 6 Oktober yang juga merupakan tanggal dimulainya perang kini dirayakan sebagai hari libur nasional.

Perang Yom Kippur juga membawa efek domino susulan di luar medan perang. Sebagai respon atas dukungan AS kepada Israel, negara-negara Arab penghasil minyak memutuskan untuk menghentikan ekspor minyaknya ke AS & negara-negara sekutunya sejak pertengahan bulan Oktober. Akibat tindakan tersebut, harga minyak dunia meroket tajam & timbul kelangkaan bahan bakar di mana-mana. Kondisi tersebut berlangsung selama beberapa bulan & baru berakhir setelah negara-negara Arab mengakhiri embargonya pada pertengahan tahun 1974.

Kembali ke medan konflik. Tak lama setelah berakhirnya Perang Yom Kippur, pembicaraan damai antara Israel & Mesir dilakukan. Pembicaraan damai tersebut akhirnya menghasilkan perjanjian kontroversial Camp David di tahun 1978. Poin terpenting dari perjanjian tersebut adalah Israel akan menyerahkan Sinai ke Mesir & sebagai gantinya, Mesir akan mengakui kedaulatan Israel. Kemauan Mesir untuk mengakui Israel tersebut berbuntut panjang karena Mesir kemudian dikucilkan oleh negara-negara Arab lainnya & bahkan sempat terlibat perang singkat dengan negara tetangganya Libya di tahun 1977.

Jika Mesir & Israel melakukan perbaikan hubungan pasca Perang Yom Kippur, maka tidak demikian dengan Suriah yang memilih untuk tetap tidak mengakui Israel sehingga hubungan antara Israel & Suriah pun tetap tegang. Saat perang saudara meletus di Lebanon sejak pertengahan dekade 1970-an contohnya, pasukan Israel & Suriah sempat terlibat konflik di sana. Hingga sekarang, Suriah juga secara diam-diam mendukung kelompok Hizbullah (Lebanon) & Hamas (Palestina) yang sama-sama memusuhi Israel.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : Oktober 1973
    - Lokasi : Israel, Mesir, Suriah

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Israel
          melawan
    (Negara)  -  Mesir, Suriah, Yordania, Irak

3. Hasil Akhir
    - Perang berakhir tanpa pemenang yang jelas
    - Perundingan damai antara Mesir & Israel yang menghasilkan "Perjanjian Camp David"
      di tahun 1978

4. Korban Jiwa
    - Israel : 2.500 - 2.800 orang
    - Mesir & sekutunya : 8.000 - 18.000 orang



REFERENSI

Jewish Virtual Library - The Yom Kippur War
U.S. Department of State - OPEC Oil Embargo 1973–1974
Wikipedia - Yom Kippur War
Buckwalter, David T.. "The 1973 Arab-Israeli War". (file PDF)
- . 2006. "Edisi Koleksi Angkasa : Perang Hizbullah-Israel". PT Gramedia, Jakarta.


              
COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

7 komentar:

  1. Artikel yang sangat menarik sekali. Semoga semua pihak yang bertikai di sana saat ini bisa segera menyelesaikan permasalahan mereka dengan kepala dingin dan hati yan sejuk. Perang dan kebencian hanya akan membawa kesengsaraan pada semua pihak.

    BalasHapus
  2. Orang mesir ini ya aneh aneh... kalah perang lagi kok dijadikan moment meningkatkan moral... tanggal memulai perang dan kalah kok dijadikan hari libur nasional.. Yang heran lagi dunia arab... bangsa yang akan berdamai malah dimusuhi/dikucilkan... Arab primitif kali ya?...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagian gimana mau ngeklaim menang , perang aja mulai duluan ternyata memble, nasibnya seperti jepang makan pearl harbour, habis itu jadi kalah ...

      Hapus
  3. Artikelnya bagus, alurnya mudah dipahami.
    Usul revisi sedikit di ringkasan perang Yom Kippur, seharusnya Oktober 1973 ya.
    Thanks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, iya. Terima kasih atas koreksinya.

      Hapus
  4. gua bannga ma negara2 Arab yg dulu berani ngelawan zinonis ma kacungnya America.memang harus begitu soalnya Zionist brengsek

    BalasHapus




Silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini, selama tidak mengandung unsur pornografi, provokasi SARA, kata-kata kasar, & link berbau iklan. Bila anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel, silakan menuju "PUSAT LOGISTIK" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.