FAUNA    |    HIBURAN    |    SEJARAH    |   Cari Artikel...

22 Maret 2012

Perang Cina-India, Adu Kuat Dua Raksasa Asia




Iring-iringan kendaraan pengangkut perbekalan
milik pasukan India di medan perang. (Sumber)

Cina & India bila dibandingkan memiliki banyak kesamaan. Kesamaan pertama jelas karena keduanya sama-sama terletak di Benua Asia. Kesamaan lainnya, kedua negara tersebut sama-sama merupakan 2 negara terluas & terpadat penduduknya di Asia. Dengan aneka kelebihan & kesamaan tersebut, sebenarnya baik India maupun Cina bisa muncul sebagai kekuatan baru dunia bila mau bekerja sama, terlebih kalau melihat bahwa Cina & India sekarang sama-sama merupakan anggota persekutuan multinasional BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa). Namun sejarah menunjukkan bahwa aneka kesamaan tersebut lantas tidak membuat kedua negara tidak pernah terlibat konflik terbuka sama sekali.

Konflik terbuka antara kedua negara yang dimaksud di sini adalah perang Cina-India (China-India war) yang kerap juga disebut sebagai perang Sino-India & berlangsung di tahun 1962. Perang ini sendiri terjadi dalam intensitas yang tidak terlalu besar karena hanya berlangsung selama sebulan, lokasinya yang terbatas di daerah perbatasan kedua negara, & hanya melibatkan pasukan darat masing-masing negara. Salah satu penyebab mengapa hanya pasukan darat yang terlibat dalam perang ini adalah karena lokasi perangnya yang ada di kawasan pegunungan setinggi ribuan meter di atas permukaan laut sehingga pasukan udara & laut dari masing-masing negara tidak bisa ikut diterjunkan.



LATAR BELAKANG

Seperti halnya sejumlah perang lainnya yang melibatkan negara-negara bertetangga, perang Cina-India juga dipicu oleh masalah saling klaim atau sengketa wilayah di perbatasan. Ada 2 wilayah yang menjadi sumber sengketa, yaitu Dataran Aksai Chin di Kashmir & Garis McMahon yang membelah wilayah Tibet. Supaya kita bisa tahu lebih dalam soal asal muasal sengketa kedua wilayah tersebut, maka bagian berikutnya akan membahas soal sejarah singkat kepelimikan 2 wilayah tersebut :


1. Aksai Chin

Peta Asia yang menampilkan wilayah sengketa Cina &
India (warna merah). Aksai Chin terletak di sebelah
kiri, sementara Tibet selatan terletak di sebelah kanan.
Sejak tahun 1846 menyusul keberhasilan Inggris menaklukkan Konfederasi Sikh, Inggris berhasil menguasai wilayah-wilayah yang sebelumnya dimiliki oleh Konfederasi Sikh. Salah satu dari wilayah tersebut adalah Aksai Chin yang terletak di wilayah Kashmir utara & timur. Inggris lalu berunding dengan Cina untuk memutuskan batas resmi antara kedua wilayah, namun perundingan tersebut gagal menentukan batas yang jelas mengenai Aksai Chin. Kendati demikian, sengketa atas Aksai Chin sendiri tidak pernah menjadi isu hangat antara kedua negara hingga beberapa tahun berikutnya.

Memasuki tahun 1865, perwakilan Inggris untuk Kashmir merancang garis perbatasan yang dikenal sebagai "Garis Johnson" di mana garis batas yang memisahkan Cina & Kashmir tersebut memasukkan wilayah Aksai Chin sebagai bagian dari Kashmir. Pemimpin Kashmir menyambut baik keberadaan Garis Johnson tersebut, namun Cina menyatakan penolakannya & enggan mengakui keberadaan Garis Johnson. Beberapa tahun kemudian - tepatnya pada tahun 1899 - Inggris yang membutuhkan Cina sebagai sekutu untuk membendung pengaruh Kekaisaran Rusia di utara memutuskan untuk menghilangkan keberadaan Garis Johnson & membuat garis batas baru di mana kali ini, sebagian besar wilayah Aksai Chin dijadikan wilayah Cina.

Tahun 1911, timbul Revolusi Xinhai oleh panglima-panglima militer Cina yang mengakhiri era kekaisaran. Pasca revolusi tersebut, kondisi dalam negeri Cina dilanda ketidak stabilan & raksasa Asia itupun sempat tidak memiliki pemerintahan pusat yang jelas selama beberapa waktu. Inggris lantas mulai mengakui kembali keberadaan Garis Johnson sejak berakhirnya Perang Dunia I. Garis tersebut tetap menjadi salah satu batas resmi antara wilayah India kekuasaan Inggris dengan Cina hingga puluhan tahun berikutnya. Ketika India mendapat kemerdekaan di tahun 1947, pemerintah baru India tetap menyatakan pengakuannya atas garis Johnson sebagai salah satu batas resmi antara India & Cina.

Cina sendiri masih cenderung bersikap adem ayem walaupun tetap enggan mengakui keberadaan Garis Johnson karena Cina ingin memelihara hubungan baik dengan India. Terutama karena India adalah salah satu negara pertama yang mengakui rezim komunis Republik Rakyat Cina (RRC) pasca perang sipil Cina yang berakhir di tahun 1949. Namun memasuki tahun 1957, hubungan antara keduanya mulai menegang setelah di tahun tersebut India menemukan bahwa Cina secara diam-diam membangun jalan yang menghubungkan Aksai Chin & Tibet selatan dengan provinsi Xinjiang, Cina. Dikombinasikan dengan kasus sengketa atas Garis McMahon & pemberontakan yang timbul di Tibet beberapa tahun kemudian, ketegangan antara kedua negara pun semakin meningkat.


2. Garis McMahon (Tibet)

Peta dari Tibet. (Sumber)
Tahun 1914, Tibet & perwakilan Inggris yang menjajah India terlibat dalam perundingan yang kemudian menghasilkan suatu kesepakatan bernama "Konvensi Simla" di mana konvensi tersebut menetapkan bahwa hanya sebagian wilayah Tibet yang berada di bawah kendali langsung dari Cina. Sedikit info, Tibet saat itu sebenarnya masih berstatus sebagai bagian dari Cina, namun pemerintah Tibet mengklaim dirinya sebagai negara merdeka dengan memanfaatkan situasi Cina yang sedang tidak stabil akibat perang sipil pasca Revolusi Xinhai. Perundingan yang menghasilkan Konvensi Simla juga tidak melibatkan Cina sehingga dalam perkembangannya, Cina selalu menolak mengakui keberadaan Konvensi Simla & Garis McMahon.

Tahun 1947, Inggris memerdekakan India & pemerintahan baru India menganggap Garis McMahon sebagai salah satu batas resmi wilayahnya. Seperti halnya kasus sengketa Aksai Chin, Cina masih menunjukkan sikap pasif dalam kasus Garis McMahon ini karena walaupun tetap enggan mengakui keberadaan Garis McMahon, Cina tidak pernah menyinggungnya karena ingin tetap menjaga hubungan baiknya dengan India. Namun lagi-lagi seperti kasus sengketa Aksai Chin, hubungan antara kedua negara mulai memburuk ketika di tahun 1957, India menemukan jalan penghubung antara Aksai Chin & Tibet selatan dengan provinsi Xinjiang yang secara diam-diam dibuat oleh Cina.

Hubungan antara kedua negara semakin panas setelah di tahun 1959, sejumlah penduduk lokal Tibet melakukan pemberontakan untuk mengakhiri kekuasaan Cina atas Tibet. Pemberontakan tersebut berakhir dengan kegagalan & Dalai Lama ke-14 selaku pemimpin spiritual dari Tibet lalu melarikan diri ke India. Kemauan India untuk menampung Dalai Lama lantas mengundang kemarahan Cina sehingga buntutnya, hubungan antara kedua negara jadi semakin memanas & tentara perbatasan kedua negara mulai sering terlibat baku tembak skala kecil. Merasa bahwa konflik terbuka antara keduanya bakal terjadi dalam waktu dekat, masing-masing negara pun sejak tahun tersebut mulai menambah jumlah tentara & persediaan logistiknya di perbatasan.



BERJALANNYA PERANG

Perang Fase I (Oktober 1962)

Tentara India yang sedang
mengoperasikan meriam. (Sumber)
Tanggal 20 Oktober 1962, pasukan Cina yang ada di front barat (Aksai Chin) & front timur (Cina selatan) secara serentak melakukan serangan cepat ke wilayah India. Pihak India sama sekali tidak menyangka bahwa Cina akan melakukan serangan besar-besaran sehingga menjelang dimulainya perang, pasukan mereka hanya melakukan sedikit persiapan. Di front barat contohnya, serangan cepat yang dilakukan Cina berhasil membuat pasukan India yang menjaga pos-pos perbatasan kewalahan & terpaksa melawan dengan kekuatan seadanya. Hasilnya, hanya dalam waktu 2 hari sejak memulai serangan, pasukan Cina berhasil menguasai seluruh wilayah Aksai Chin.

Di front timur, pasukan Cina yang dari segi jumlah & persiapan perang lebih unggul melakukan penyerbuan ke basis pertahanan pasukan India di sebelah selatan Sungai Namka Chu. Awalnya pasukan India di front timur mengira bahwa pasukan Cina akan menyerang lewat jembatan yang membentang di atas sungai tersebut sehingga mereka pun memfokuskan kekuatannya di sekitar jembatan tersebut. Namun faktanya, pasukan Cina justru memecah pasukannya di front timur menjadi kelompok-kelompok kecil & kemudian menyeberangi Sungai Namka Chu secara diam-diam pada malam hari lewat kedua sisi jembatan tersebut.

Keesokan harinya menjelang terbitnya matahari, pasukan Cina secara mendadak mulai mengepung basis pertahanan India di dekat Sungai Namka Chu. Sembari melakukan serangan, pasukan Cina juga memutus jaringan kabel telepon milik pasukan India. Terkejut dengan serangan mendadak tersebut & tidak bisa mengirimkan pesan ke luar medan perang untuk meminta bantuan, pasukan India yang ada di sana kemudian melarikan diri ke Bhutan, negara tetangga India di sebelah timur. Pasukan Cina memilih untuk melanjutkan penaklukannya ke wilayah-wilayah sengketa lainnya di India timur & tidak mengejar pasukan India yang melarikan diri ke Bhutan.

Tanggal 24 Oktober, Cina yang sudah berhasil menguasai seluruh wilayah sengketa di kedua front lalu mengumumkan gencatan senjata. Gencatan senjata tersebut juga diikuti dengan tawaran dari pihak Cina yang menyatakan bahwa Cina akan menarik mundur pasukannya dari medan perang kalau India mau merundingkan kembali soal garis perbatasan di wlayah sengketa kedua negara. Tawaran tersebut ditolak India yang diikuti dengan pernyataan bahwa India akan mengerahkan kekuatan militernya secara penuh untuk mengusir Cina dari tanah India. India merasa berani mengeluarkan pernyataan tersebut karena di saat bersamaan, AS & Inggris menyatakan dukungannya pada India.


Perang Fase II (November 1962)

Tentara Cina di medan perang yang sedang
bergerak melakukan penyerbuan. (Sumber)
Tanggal 14 November alias sekitar 3 minggu setelah gencatan senjata pertama kali diumumkan, pertempuran kembali meletus di front timur. Dalam pertempuran tersebut, India yang melancarkan serangan besar-besaran ke kota Walong milik Cina berhasil merebut kota tersebut & membunuh sejumlah besar tentara Cina. Cina lantas meresponnya dengan melakukan serangan balik ke basis pertahanan India di dekat Se La pada tanggal 17 November. Pasukan Cina sekali lagi menunjukkan kelihaiannya dalam memanfaatkan medan tempur. Alih-alih menyerang basis pertahanan India lewat jalan raya seperti yang diprediksi oleh pihak India, pasukan Cina justru melancarkan serangan lewat jalan kecil di pegunungan & berhasil memberangus pasukan India yang ada di Se La.

Pertempuran yang kembali pecah di front timur lantas menjalar ke front barat. Pada tanggal 18 November 1962, pasukan Cina yang memanfaatkan gangguan jaringan komunikasi yang menimpa pasukan India & kabut yang menyelimuti kawasan tersebut berhasil merebut Bukit Gurung dari tangan pasukan India setelah melalui pertempuran sengit selama 2 hari. Begitu sengitnya pertempuran tersebut sehingga sekitar 1.000 orang tentara Cina harus tewas atau terluka. India sendiri di lain pihak kehilangan 109 orang dari total 123 tentara yang ditugaskan untuk mempertahankan Bukit Gurung.

Sejumlah tentara India yang selamat dari pertempuran tersebut lalu melarikan diri ke wilayah pegunungan yang lebih tinggi & sempat meminta bantuan pengiriman pasukan tambahan karena khawatir pasukan Cina akan menerobos masuk ke wilayah India untuk mengejar mereka. Namun yang terjadi adalah pihak Cina justru kembali mengumumkan gencatan senjata tak lama usai pertempuran di Bukit Gurung karena mereka merasa sudah berhasil merebut kembali wilayah-wilayah sengketa yang diklaim sebagai milik mereka. Dengan diumumkannya gencatan senjata tersebut, maka perang Cina-India yang sudah berlangsung selama 1 bulan pun berakhir.



KONDISI PASCA PERANG

Perang Cina-India yang berlangsung selama sekitar 1 bulan memakan korban jiwa 3.000 orang lebih di pihak India & 700 orang lebih di pihak Cina. Hal yang cukup menarik adalah selama berperang, kedua belah pihak tidak pernah melakukan pemutusan hubungan diplomatik. Pasca perang, baik Cina maupun India juga sama-sama menunjukkan komitmennya untuk menyelesaikan masalah sengketa di perbatasan lewat cara-cara damai. Hasilnya, India mengakui klaim Cina atas Tibet utara & sebagian Kashmir (Aksai Chin), sementara Cina di lain pihak mengakui klaim India atas Tibet selatan (sekarang dikenal sebagai Provinsi Arunachal Pradesh, India).

Tentara Cina yang sedang berbicara dengan
tentara India di perbatasan. (Sumber)
Di luar Cina & India, Pakistan yang memiliki hubungan kurang baik dengan India mulai meningkatkan hubungannya dengan Cina. Pakistan juga mempelajari perang Cina-India secara mendalam dengan harapan bisa menemukan strategi yang tepat untuk mengalahkan India jika suatu hari nanti, Pakistan & India kembali terlibat perang. Perang antara keduanya akhirnya benar-benar pecah di tahun 1965 alias hanya 2 tahun usai berakhirnya perang Cina-India. Walaupun menyatakan dukungannya pada Pakistan, Cina tidak mengirimkan bantuan militer apapun pada Pakistan sehingga perang itupun berakhir tanpa pemenang yang jelas.

Tahun demi tahun berlalu, Cina & India tidak pernah lagi terlibat perang atau konflik berskala besar lainnya. Sejak akhir abad ke-20 yang ditandai dengan peningkatan pesat sektor ekonomi Cina & India, kedua negara juga berusaha meningkatkan hubungan bilateralnya, salah satunya dengan membentuk persekutuan multinasional bernama BRICS yang juga beranggotakan Afrika Selatan, Brazil, & Rusia. Kendati demikian, ketakutan akan timbulnya konflik di masa depan juga masih tetap ada walaupun peluang timbulnya kembali perang bisa dikatakan kecil. Semoga saja hubungan baik antara kedua negara bisa tetap terjaga karena perdamaian & kerja sama yang saling menguntungkan terbukti jauh lebih bermanfaat daripada harus saling memerangi satu sama lain.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : Oktober - November 1962
    - Lokasi : India timur laut; Cina barat & selatan

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Cina
          melawan
    (Negara)  -  India

3. Hasil Akhir
    - Kemenangan pihak Cina
    - Cina mendapatkan seluruh wilayah hasil klaimnya

4. Korban Jiwa
    - Cina : 722 orang tewas
    - India : 3.000 orang tewas / hilang



REFERENSI

GlobalSecurity.org - Indo-China War of 1962
Wikipedia - Origin of the Sino-Indian border dispute
Wikipedia - Sino-Indian War
Abitbol, Aldo D.. "Causes of the 1962 Sino-Indian War". (file PDF)


       
COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

5 komentar:

  1. Perlu diralat nih, dalam bab Kondisi Pasca Perang, dinyatakan perang berakhir dengan memakan korban jiwa 3000 orang lebih di pihak India & 700 orang lebih di pihak China, sedangkan pada bab Perang Fase II, dinyatakan sekitar 1000 orang tentara China yang harus tewas atau terluka dalam merebut Bukit Gurug.
    Jadi seharusnya setelah perang berakhir, korban di pihak China enggak mungkin cuma 700 orang lebih.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  2. @anonim
    1.000 tewas atau terluka berarti itu jumlah campuran antara korban yang tewas & yang hanya sebatas terluka. Jadi bisa saja jumlah korban tewasnya aslinya kurang dari 700, sementara sisanya adalah korban terluka yang masih hidup.

    Omong-omong, makasih atas perhatiannya. Maaf kalau kalimat di artikelnya jadi terkesan membingungkan.

    BalasHapus
  3. taktik perang china memang mantap!Lihat saja perang korea...2 negara(china,korut)lawan korsel,usa,australia,kanada,dll,dan lht sejarah perang china dan vietnam.Wow salut buat china

    BalasHapus
  4. mantap gan, visit back ya :D

    BalasHapus




Komentar dari para pengunjung sangat dibutuhkan agar Republik ini bisa terus mengembangkan diri. Jadi, silakan melakukannya selama komentar yang anda buat tidak mengandung unsur pornografi, provokasi SARA, kata-kata kasar, & link berbau iklan.

Bila anda ingin berkomentar dengan memakai nama anda sendiri, klik menu dropdown yang terletak di samping kanan tulisan "Beri komentar sebagai:". Lalu pilih opsi "Name/URL". Isikan nama anda di kolom nama, lalu isikan sembarang alamat situs di kolom URL (misalnya www.google.com).

Bila anda ingin mencetak atau menyimpan artikel, silakan menuju "PUSAT LOGISTIK" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.