![]() |
| Tentara Thailand dalam insiden baku tembak di Thailand selatan. (Sumber) |
Papua, Biafra, Kosovo, Tibet, Nagorno-Karabakh, Irlandia Utara, & Thailand selatan. Apa kesamaan dari wilayah-wilayah tersebut? Jawabannya adalah kesemua daerah tersebut pernah atau sedang mengalami konflik separatisme, konflik di mana orang-orang di daerah yang bersangkutan ingin supaya daerah tempatnya tinggal memisahkan diri dari negara induknya. Nah, artikel kali ini bakal membahas soal konflik separatisme di Thailand selatan, wilayah dari negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara yang sedang dilanda konflik bersenjata selama puluhan tahun hingga sekarang.
Konflik bersenjata di "Negeri Gajah Putih" ini terjadi antara pasukan Thailand melawan kelompok-kelompok separatis bersenjata Thailand selatan. Di antara kelompok-kelompok separatis bersenjata tersebut, kelompok yang paling dominan & paling populer dalam konflik ini adalah Patani United Liberation Organization (PULO; Organisasi Pembebasan Bersatu Patani), kelompok yang bercita-cita mendirikan negara merdeka "Patani Darussalam" di wilayah Thailand selatan. Secara garis besar, konflik di Thailand selatan bisa dibagi ke dalam 3 fase berdasarkan waktu & intensitasnya : fase permulaan (1960 - 1998), fase pemberontakan kembali (2001 - 2004), & fase kritis yang juga merupakan puncak berlangsungnya konflik (2005 hingga sekarang).
Oleh orang awam, konflik di Thailand selatan ini kerap dipandang sebagai konflik agama semata antara muslim Melayu di Thailand selatan melawan orang Thai Buddha yang mendominasi pemerintahan pusat Thailand. Namun sebenarnya, ada begitu banyak faktor yang menyebabkan konflik ini timbul di mana selain faktor perbedaan agama, faktor-faktor seperti kesenjangan sosial & tindakan kasar aparat keamanan juga turut berperan. Selebihnya, konflik di Thailand selatan ini mengakibatkan ribuan orang tewas & kerugian material yang tidak main-main. Jumlah tersebut masih sangat mungkin terus bertambah ke depannya kalau melihat masih berlangsungnya konflik ini.
LATAR BELAKANG
Wilayah Thailand selatan - khususnya provinsi Patani (atau Pattani), Yala, & Narathiwat - memiliki perbedaan besar secara sosial budaya jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah Thailand yang lain. Jika wilayah-wilayah Thailand yang lain didominasi oleh etnis Thai yang beragama Buddha, maka wilayah di Thailand selatan mayoritas penduduknya adalah etnis Melayu yang memeluk agama Islam. Hal tersebut tidak lepas dari fakta bahwa di masa lalu, wilayah Thailand selatan memang merupakan bagian dari Kesultanan Kedah & Patani yang didirikan oleh orang-orang Melayu.
| Peta dari wilayah Thailand selatan yang mayoritas penduduknya berasal dari etnis Melayu. (Sumber) |
Pada dekade 1930-an, timbul revolusi di Thailand di mana sistem monarki absolut Thailand berganti menjadi sistem monarki parlementer di mana parlemen didominasi oleh orang-orang dari kalangan militer. Pergantian sistem pemerintahan tersebut lantas diikuti dengan semakin radikalnya kebijakan pemerintah pusat Thailand terhadap wilayah-wilayah di Thailand selatan. Jika di era monarki absolut orang-orang Melayu lokal masih memiliki perwakilan di badan pemerintahan Thailand selatan, maka di era monarki konstitusional sistem perwakilan daerah tersebut dihapuskan & diganti menjadi sistem yang lebih sentralistik.
Kebijakan-kebijakan pemerintahan Thailand yang baru belum sampai di situ. Peraturan-peraturan lokal berbasiskan Islam juga dihapuskan & masyarakat Thailand selatan diharuskan memakai aksara serta bahasa Thai - menggantikan bahasa Melayu yang selama ini mereka pakai. Hal tersebut pada gilirannya menimbulkan masalah baru karena ketika masih banyak dari masyarakat di Thailand selatan yang tidak fasih menggunakan bahasa Thai, peluang mereka untuk melamar pekerjaan jadi menipis. Buntutnya, pengangguran di Thailand selatan pun membludak. Sebagai akibatnya, rasa tidak suka masyarakat lokal kepada pemerintah pusat terus meningkat hingga akhirnya berujung pada munculnya kelompok-kelompok bersenjata yang anti pemerintah pusat.
BERJALANNYA KONFLIK
Konflik Fase I (1960 - 1998)
![]() |
| Bendera dari BRN. (Sumber) |
Walaupun BRN cukup berhasil mengusik stabilitas di Thailand selatan lewat aksi-aksi bersenjatanya, kelompok tersebut tidak pernah berkembang menjadi ancaman regional yang serius karena minimnya dukungan dari rakyat Thailand selatan sendiri - khususnya dari kalangan muslim konservatif - yang merasa tidak cocok & tidak tertarik dengan ideologi sayap kiri yang diusung BRN. Buntutnya di tahun 1968, sejumlah orang Thailand selatan yang merasa bahwa aksi-aksi perlawanan bersenjata terhadap pemerintah pusat terlalu minim lalu membentuk kelompok pemberontak baru yang bernama Patani United Liberation Organization (PULO; Organisasi Pembebasan Bersatu Patani).
PULO dalam perkembangannya berhasil menarik minat masyarakat lokal Thailand selatan karena selain melakukan perlawanan bersenjata, kelompok tersebut juga gencar melakukan aneka kegiatan sosial untuk meningkatkan taraf pendidikan & kesejahteraan para penduduk lokal. Buntutnya, PULO pun dalam perkembangannya berhasil berkembang menjadi kelompok pemberontak terbesar di Thailand. Kendati demikian, anggota dari PULO sendiri tidak pernah menembus angka 400 orang sehingga kelompok tersebut tetap kesulitan melakukan aksi-aksi penyerangan berskala besar. Selama melakukan aktivitas pemberontakan, PULO biasanya menargetkan sasaran-sasaran seperti sekolah, kantor pemerintah, kuil Buddha, & elemen-elemen masyarakat yang terlibat di dalamnya.
![]() |
| Lambang dari PULO, kelompok pemberontak terbesar dalam konflik di Thailand selatan. (Sumber) |
Kendati ada lebih dari 1 kelompok pemberontak yang aktif dalam konflik, konflik di Thailand selatan sendiri pada fase ini hanya berkutat pada konflik skala kecil karena masing-masing kelompok hanya bekerja sendiri-sendiri sambil bersaing satu sama lain. Namun memasuki tahun 1997, situasinya mulai berubah setelah kelompok-kelompok tersebut sepakat untuk membentuk kelompok pemberontak bersama yang bernama Bersatu & melakukan operasi militer bersama dengan kode sandi "Operasi Daun Gugur" (Operation Falling Leaves). Dalam operasi militer tersebut, para personil Bersatu melakukan aksi-aksi penembakan, pemboman, & pembakaran yang terkoordinir di mana aksi-aksi tersebut mengakibatkan 9 korban tewas & kerugian material yang signifikan.
Seiring dengan semakin meningkatnya intensitas konflik sejak terbentuknya Bersatu, Thailand pun melakukan sedikit perubahan strategi untuk meredam konflik. Lobi dengan pemerintah Malaysia ditingkatkan di mana hasilnya, Mahathir Muhammad - perdana menteri (PM) Malaysia saat itu - setuju untuk melakukan kerja sama lintas perbatasan dengan aparat Thailand. Kerja sama tersebut berbuah manis bagi Thailand karena berkat kerja sama tersebut, tokoh-tokoh penting dari kelompok pemberontak Thailand selatan yang selama ini bersembunyi di Malaysia berhasil diringkus. Sebagai akibatnya, kekuatan Bersatu pun mengalami penurunan tajam & Thailand selatan sempat memasuki periode damai - untuk sementara waktu.
Konflik Fase II (2001 - 2004)
![]() |
| Para relawan keamanan desa yang sedang berlatih. (Sumber) |
Tidak mulusnya pelaksanaan kebijakan-kebijakan pemerintah pusat Thailand dalam menangani masalah-masalah sosial di Thailand selatan lantas diikuti dengan meletupnya kembali aktivitas pemberontakan. Di akhir tahun 2001, 5 aksi penyerangan terkoordinir yang dilakukan oleh kelompok bersenjata yang identitasnya tidak diketahui mengakibatkan 5 anggota polisi & 1 relawan keamanan desa tewas. Tahun demi tahun berlalu, aksi-aksi penyerangan di Thailand selatan terus mengalami peningkatan dari sekitar 75 kasus di tahun 2002 menjadi 119 kasus di tahun 2003.
Memasuki tahun 2004, intensitas konflik masih menunjukkan tren peningkatan. Para pelaku serangan juga mulai berani menargetkan target-target berpengamanan tinggi semisal pos tentara. Bulan Januari 2004 contohnya, sekitar 100 orang bersenjata menyerang pangkalan militer di Thailand selatan & merampas stok persenjataan yang tersimpan di dalamnya. Aksi serupa juga muncul di bulan Maret & April 2004 di mana dalam aksi-aksi tersebut, para pelaku berhasil mengamankan aneka persenjataan modern seperti senapan mesin, senapan serbu, peluncur granat berpendorong roket (RPG), & bahan peledak.
![]() |
| Masjid Krue Se. (Sumber) |
Momen kontroversial selama konflik di tahun 2004 belum sampai di situ. Bulan Oktober 2004 di kota Tak Bai, Narathiwat, para penduduk lokal berdemonstrasi menuntut dibebaskannya 6 kawan mereka yang sebelumnya ditangkap oleh aparat setempat karena dituduh menyediakan persenjataan untuk pasukan pemberontak setempat. Respon aparat Thailand untuk meredam demonstrasi tersebut tidak main-main, bahkan terkesan berlebihan. Ratusan penduduk lokal ditangkap & diikat sambil dipaksa menanggalkan pakaian bagian atasnya, lalu dimasukkan ke dalam truk dalam kondisi bertumpuk-tumpuk untuk kemudian diangkut ke pos militer di Patani.
Kontroversi muncul karena di dalam perjalanan, puluhan dari demonstran yang diangkut tersebut belakangan ditemukan tewas akibat dehidrasi & kekurangan oksigen dalam perjalanan. Kecaman terhadap perilaku tentara Thailand pun langsung meledak, bukan hanya dari kalangan muslim tapi juga dari golongan non-muslim Thailand. Sidang untuk mengadili para tentara yang dituding bertanggung jawab atas insiden tersebut sempat dilangsungkan, namun para terdakwa ternyata hanya menerima vonis hukuman ringan. Lepas dari masih banyaknya misteri yang menyelimuti insiden tersebut, insiden-insiden kontroversial yang melibatkan tentara Thailand tersebut pada akhirnya ibarat sumbu yang memicu konflik fase baru di Thailand selatan. Konflik fase baru yang berskala jauh lebih besar...
Konflik Fase III (2005 - sekarang)
![]() |
| Tentara Thailand yang sedang berpatroli di wilayah Thailand selatan. (Sumber) |
Di medan konflik sendiri, aksi-aksi vandalisme yang dilakukan oleh para pemberontak mengalami peningkatan pesat jika dibandingkan dengan konflik pada fase sebelumnya. Bulan Februari 2005 contohnya, sebuah bom rakitan seberat 50 kg meledak di perbatasan Thailand-Malaysia. Sebulan kemudian, beberapa buah bom meledak di bandara, supermarket, & hotel Provinsi Songkhla. Selain melakukan aktivitas pemboman, para milisi pemberontak juga semakin sering melakukan aksi-aksi penembakan & pemotongan kepala kepada orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka, termasuk kepada para pemuka agama setempat.
Semakin gencarnya aktivitas para pemberontak lantas membuat PM Thailand saat itu, Thaksin Shinawatra, mengerahkan lebih banyak personil militer di area konflik. Total, ada sekitar 24.000 tentara & hampir 70.000 anggota milisi pro-pemerintah yang diterjunkan sejak tahun 2004. Namun, minimnya ketrampilan pasukan Thailand dalam metode-metode anti-teror & buruknya rasa saling pengertian dengan penduduk lokal menyebabkan upaya para tentara untuk meredam konflik menjadi tidak efektif. Tak hanya itu, pihak tentara juga kerap bergesekan dengan otoritas polisi setempat karena keterlibatan sejumlah anggota polisi dalam sindikat narkoba di Thailand selatan.
![]() |
| Suasana pasca pemboman di Provinsi Yala. (Sumber) |
Tahun demi tahun berlalu & selama periode itu, Thailand sempat beberapa kali mengalami pergantian kepemimpinan. Para pemimpin yang berkuasa tersebut juga sempat mengutarakan optimismenya bahwa konflik di Thailand selatan bakal segera berakhir. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa konflik belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera usai. Pada tanggal 9 Februari 2012 lalu contohnya, sebuah bom truk meledak di Thailand selatan & mengakibatkan sekurang-kurangnya 1 orang tewas. Sebulan sebelumnya, pasukan Thailand juga sempat terlibat baku tembak dengan pasukan pemberontak di mana pihak Thailand mengklaim, baku tembak tersebut menewaskan 4 orang anggota pemberontak.
Kalau melihat begitu rumitnya konflik di Thailand selatan ini, pertanyaan klasik pun lantas merebak. Sampai kapankah Thailand selatan akan terus menjadi arena konflik & pertumpahan darah? Tak ada yang tahu pasti jawabannya. Semoga saja pihak-pihak yang berkonflik bisa segera menemukan solusi akhir bagi masalah mereka, walaupun tampaknya hal tersebut bakal sulit terwujud dalam waktu dekat...
RINGKASAN KONFLIK (HINGGA DESEMBER 2011)
1. Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : 1960 - sekarang
- Lokasi : Thailand selatan
2. Pihak yang Bertempur
(Negara) - Thailand
melawan
(Grup) - BRN, PULO, GMIP, BIPP, milisi-milisi anti-Thailand
3. Hasil Akhir
Belum diketahui, konflik masih berlangsung hingga sekarang
4. Korban Jiwa
Tidak diketahui (korban jiwa sejak konflik tahun 2004 mencapai 3.800 jiwa)
REFERENSI
AntaraNews.com - Bom tewaskan satu orang di Thailand selatan
GlobalSecurity.org - PULO
KOMPAS.com - Kekerasan di Thailand Selatan Belum Usai
Wikipedia - History of Thailand
Wikipedia - South Thailand insurgency
Chalk, Peter. 2008. "The Malay-Muslim Insurgency in Southern Thailand". (file PDF)
COBA JUGA HINGGAP KE SINI...







4 komentar:
ini yg membuat ngeri.. padahal pengen banget ke pattani..
aku pikir tadinya cuma konflik agama tok lo.. ternyata
nice info preet :D
beda separatisme sama terorisme ap y gan?
kasus ini kn awalnya separatis yg ingin pisah, trus brlanjut jd teror kpd orag yg gk sealiran. jdi bisa d blag teroris jg gak?
heee...
@anonim
Yang pertanyaan pertama :
Separatisme tujuan utamanya adalah memisahkan daerahnya dari negara induk, entah itu dengan cara damai atau dengan cara kekerasan
Kalau terorisme tujuan utamanya adalah menciptakan teror & ketakutan, jadi terorisme itu pasti memakai kekerasan dalam kegiatannya
Yang pertanyaan kedua :
Pada dasarnya ya bisa. Soalnya inti dari terorisme itu menciptakan teror & ketakutan kepada orang-orang yang dianggap nggak sejalan. Ntah itu dengan aktivitas peledakan bom, pembunuhan, dsb
Tapi yang perlu diingat, itu definisi terorisme secara umum. Masalahnya, terorisme itu punya konotasi yang negatif & jarang ada kelompok di dunia ini yang melakukan sesuatu hanya karena ingin menciptakan kekacauan semata. Selalu ada motivasi lain di baliknya (kalau dalam hal ini ya mewujudkan pemisahan dari negara induk)
Dan kalau memakai definisi terorisme di atas tadi, aparat negara yang melakukan aksi-aksi ancaman & kekerasan serupa kepada para penduduk sipil yang tidak sejalan juga sebenarnya dah bisa dikategorikan sebagai 'teroris'
mga cpat aman..
Poskan Komentar