FAUNA    |    HIBURAN    |    SEJARAH    |   Cari Artikel...

7 Juli 2011

Perang Sipil Sudan, Perang Saudara Terpanjang di Afrika (bagian 1)




Peta lokasi dari Sudan sebelum pecah. (Sumber)

Bila kita melihat peta Benua Afrika, maka kita akan mendapatkan Sudan sebagai negara dengan luas wilayah terbesar di benua tersebut. Namun dalam waktu dekat, Sudan tidak akan lagi menyandang predikat sebagai negara terbesar di Afrika. Penyebabnya adalah sebagai akibat dari konflik sipil yang sudah berlangsung begitu lama di sana, sebagian wilayah Sudan akan segera dimerdekakan. Nah, untuk menambah wawasan para pengunjung mengenai konflik tersebut, maka artikel kali ini akan mengangkat topik soal perang sipil di Sudan.

Perang Sipil Sudan adalah konflik bersenjata yang terjadi antara pemerintah Sudah yang berbasis di Sudan Utara melawan kelompok pemberontak di Sudan Selatan. Perang ini sendiri bisa dibagi menjadi 2 periode : periode pertama (1955-1972) & periode kedua (1983-2005) dengan fase gencatan senjata sementara antar 2 periode tersebut. Dari segi waktu, perang sipil Sudan juga disebut-sebut sebagai perang sipil terpanjang di Afrika - mengungguli perang-perang sipil lain yang juga berlangsung selama puluhan tahun semisal perang sipil di Angola & Ethiopia.



LATAR BELAKANG

Akar dari perang sipil Sudan bisa ditelusuri sejak wilayah itu masih menjadi jajahan Inggris sejak akhir abad ke-19. Saat itu, Inggris membagi Sudan menjadi 2 wilayah pemerintahan jajahan berdasarkan persebaran penduduknya : wilayah utara yang didominasi oleh etnis Arab yang memeluk Islam & wilayah selatan yang mayoritasnya merupakan etnis kulit hitam Afrika penganut paham animisme & Kristen.

Peta yang menampilkan wilayah Sudan utara
(Northern) & selatan (Southern). (Sumber)
Kebijakan pembagian wilayah Sudan oleh Inggris belum sampai di situ. Orang-orang Sudan yang ada di utara dilarang bepergian ke selatan & sebaliknya. Inggris sendiri mengklaim bahwa kebijakan tersebut berguna untuk mencegah penyebaran penyakit malaria dari selatan. Namun sebagai akibatnya, wilayah utara & selatan semakin terisolasi satu sama lain sehingga sikap sentimen & rasa saling tidak percaya antar komunitas pun disebut-sebut semakin meningkat.

Kendati secara sosial-budaya wilayah Sudan terbagi menjadi 2 yang semakin diperkuat oleh kebijakan administratif Inggris, Inggris dalam perkembangannya justru berniat memerdekakan Sudan Utara & Sudan Selatan sebagai 1 negara dengan kota Khartoum di Sudan Utara sebagai pusatnya. Rencana tersebut menimbulkan kekhawatiran di pihak selatan yang takut akan didominasi oleh komunitas dari utara, terlebih karena perwakilan mereka tidak diundang oleh Inggris saat perundingan untuk memerdekakan Sudan dilakukan.

Ketakutan masyarakat Sudan Selatan akan dominasi dari utara perlahan-lahan mulai terbukti. Dalam bidang birokrasi misalnya, dari 800 kursi administratif senior yang tersedia, hanya 6 kursi yang ditempati oleh perwakilan dari Sudan Selatan. Sudan juga menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negaranya kendati selama ini masyarakat Sudan Selatan memakai bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya. Buntutnya, masyarakat Sudan Selatan pun menganggap bahwa pihak utara ingin mengucilkan pihak selatan dari pemerintahan Sudan secara perlahan-lahan.



BERJALANNYA PERANG

Meletusnya Pemberontakan di Selatan

Tahun 1955 alias setahun sebelum Sudan dimerdekakan dari tangan Inggris, sejumlah anggota Korps Ekuatorial - korps tentara yang awalnya dibentuk Inggris untuk menjaga keamanan wilayah Sudan Selatan - melakukan pemberontakan di sejumlah kota di Sudan Selatan. Pemberontakan itu berhasil ditumpas dengan mudah karena minimnya koordinasi & persenjataan yang dimiliki para pemberontak. Kendati berhasil ditumpas, sejumlah anggota pemberontak berhasil melarikan diri & melanjutkan aksi-aksi serangan berskala kecil dari area pedalaman Sudan Selatan.

Peta satelit dari Sudan. Bisa dilihat
di sini wilayah utara didominasi
gurun pasir, sementara wilayah selatan
dipenuhi oleh hutan hijau. (Sumber)
Konflik sipil yang semula hanya sebatas serangan-serangan berskala kecil mulai meningkat intensitasnya setelah pada tahun 1962, anggota-anggota Korps Ekuatorial & kelompok pelajar Sudan Selatan melebur menjadi kelompok pemberontak baru yang bernama Anyanya (Anya Nya). Hanya dalam waktu singkat, konflik sipil yang semula hanya terjadi di provinsi Ekuatoria merambat ke wilayah-wilayah lain di Sudan Selatan seperti Nil Atas & Bahr-al-Ghazal.

Seiring berjalannya pertempuran, pasukan milisi Anyanya bisa dikatakan sudah menjadi penguasa tidak resmi dari kawasan Sudan Selatan - minus kota-kota besar di Sudan Selatan yang masih bisa dikendalikan oleh tentara pemerintah Sudan. Hal itu ditunjang oleh kondisi geografis Sudan Selatan yang memang didominasi oleh hutan hujan - tidak seperti wilayah utara yang didominasi gurun pasir - sehingga kelompok Anyanya bisa memakainya sebagai markas rahasia sekaligus medan tempur yang sulit diakses & diterobos oleh pihak musuh.


Masuknya Bantuan Senjata dari Luar

Kekuatan milisi Anyanya dalam perkembangannya semakin meningkat setelah sejak tahun 1969 mereka menerima bantuan persenjataan dari luar negeri, contohnya dari Israel yang mengirimkan pasokan senjata kepada milisi Anyanya lewat perantara Ethiopia & Uganda. Selain dari Israel, Anyanya juga diketahui menerima bantuan dari kelompok pemberontak Simba di Kongo & dari para perantauan Sudan di luar negeri. Meskipun begitu, masih kentalnya persaingan & sentimen antar etnis dalam tubuh Anyanya sendiri membuat kelompok tersebut sulit memaksimalkan kekuatannya dalam perang sipil.

Perang sipil yang terjadi di Sudan sebenarnya sempat terhenti beberapa lama setelah pemerintahan militer Sudan yang baru berkuasa pada tahun 1969 lewat jalur kudeta melakukan perundingan dengan milisi Anyanya. Perundingan tersebut sayangnya gagal menemukan kata sepakat sehingga perang sipil pun kembali berlanjut. Berlanjutnya perang lantas diikuti dengan kebijakan pemerintah pusat Sudan untuk menambah jumlah personilnya sehingga jumlah tentara Sudan di Sudan Selatan pun membengkak menjadi sekitar 12.000 orang.

Tank T-55 milik pasukan Sudan. (Sumber)
Penambahan personil militer Sudan juga diikuti dengan membanjirnya bantuan uang & persenjataan dari Uni Soviet melalui perantara Mesir sejak tahun 1968. Bantuan yang diberikan Uni Soviet mencakup tank-tank termutakhir pada zamannya semisal tank tipe T-55, kendaraan lapis baja pengangkut personil, meriam anti udara, 5 pesawat angkut Antonov-24, & belasan pesawat tempur MiG-21. Datangnya bantuan persenjataan tersebut pada gilirannya semakin menambah kekuatan & daya tempur dari pasukan pemerintah Sudan.

Secara keseluruhan, pemerintah Sudan gagal memanfaatkan keunggulan militernya untuk mengalahkan kubu pemberontak di selatan karena ketidakstabilan di dalam tubuh pemerintahan Sudan sendiri. Tahun 1958 alias hanya 2 tahun setelah Sudan merdeka misalnya, timbul kudeta militer yang berhasil menggulingkan pemerintahan rakyat Sudan. Kudeta militer itu lantas diikuti oleh kudeta pemerintahan lain - berturut-turut pada tahun 1964 & 1969.


Pembentukan SSLM & Fase Akhir Konflik

Tahun 1971, seorang mantan letnan Sudan yang bernama Joseph Lagu membentuk kelompok baru bernama Southern Sudan Liberation Movement (SSLM; Gerakan Pembebasan Sudan Selatan) yang terdiri dari kelompok-kelompok pemberontak pro-Sudan Selatan, termasuk milisi Anyanya di dalamnya. Pembentukan SSLM juga mendapat dukungan dari hampir seluruh politikus & aktivis Sudan Selatan.

Joseph Lagu, pemimpin dari
kelompok SSLM. (Sumber)
Pembentukan SSLM sekaligus menjadi fase baru dalam Perang Sipil Sudan di mana untuk pertama kalinya, rakyat Sudan Selatan memiliki wadah yang sama untuk mewakili kepentingan mereka. Selama konflik berlangsung, bisa dibilang bahwa rakyat Sudan Selatan tidak sepenuhnya bersatu karena masih kentalnya konflik & persaingan antar etnis setempat - sekalipun di saat bersamaan mereka juga sedang menghadapi musuh bersama, yaitu militer milik pemerintah pusat Sudan.

Lepas dari masih berjalannya konflik antara pemerintah Sudan melawan gerilyawan pemberontak Sudan Selatan, pembicaraan damai untuk mengakhiri perang sipil Sudan terus berjalan. Hasilnya, melalui perjanjian yang difasilitasi oleh kaisar Ethiopia, Haile Selassie, pihak pemerintah Sudan yang dipimpin oleh Gaafar Nimeiry & kubu SSLM pun sepakat untuk berhenti berperang melalui apa yang dikenal sebagai Perjanjian Addis Ababa pada tanggal 27 Maret 1972.

Beberapa poin penting dari Perjanjian Addis Ababa adalah pembentukan pemerintahan otonomi tunggal yang mengontrol seluruh wilayah Sudan Selatan, pendirian Konsul Eksekutif Tinggi untuk mengurusi masalah tata daerah Sudan Selatan, & bahasa Inggris dijadikan sebagai bahasa pokok Sudan Selatan. Sejak saat itu, Perang Sipil Sudan pun bisa dikatakan resmi berakhir - untuk sementara waktu.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG FASE I

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1955 - 1972
    - Lokasi : Sudan Selatan

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Sudan
            melawan
    (Grup)  -  Korps Ekuatorial, Anyanya, SSLM

3. Hasil Akhir
    - Perang berakhir tanpa pemenang
    - Pembentukan badan pemerintahan otonomi khusus yang mengatur wilayah-wilayah Sudan Selatan

4. Korban Jiwa
     Tidak diketahui (angka perkiraan sekitar ratusan ribu jiwa).



Bersambung ke perang sipil Sudan (bagian 2).



REFERENSI

Crawfurd - Sudan Timeline
GlobalSecurity.org - Sudan - First Civil War
Wikipedia - First Sudanese Civil War
Wikipedia - Sudan


       
COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar




Silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini, selama tidak mengandung unsur pornografi, provokasi SARA, kata-kata kasar, & link berbau iklan. Bila anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel, silakan menuju "PUSAT LOGISTIK" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.