FAUNA       HIBURAN       SEJARAH    •   Cari Artikel...

29 Desember 2010

Perang Kongo, Perang Terbesar di Benua Afrika (bagian 2)




Tank milik pasukan RDK di samping rombongan pengungsi. (Sumber)

Sambungan dari Perang Kongo (bagian 1).


PERIODE DAMAI SEMENTARA (1997-1998)

Tidak lama setelah tumbangnya rezim Mobutu, Laurent-Desire Kabila - pemimpin kelompok AFDL, kelompok pemberontak utama yang menggulingkan rezim Mobutu - naik menjadi presiden Zaire. Berbagai perubahan pun ia lakukan, salah satunya adalah mengganti nama Zaire menjadi Republik Demokratik Kongo (RDK). Di lain pihak, Rwanda & Uganda yang membantu pasukan AFDL menumbangkan rezim Mobutu tetap menempatkan pasukannya di wilayah RDK.

Seiring berjalannya waktu, relasi antara Kabila dengan Rwanda & Uganda mulai meregang setelah Kabila melihat bahwa Rwanda & Uganda mengeksploitasi mineral yang ada di wilayah timur RDK untuk kepentingan mereka sendiri. Dari kubu RDK sendiri, rakyat RDK melihat Kabila tidak lebih sebagai boneka asing karena ia menjadi pemimpin RDK berkat bantuan negara-negara asing dalam menumbangkan Mobutu. Maka Kabila pun melakukan sejumlah langkah berani seperti mengganti sejumlah staf kepercayaannya yang berasal dari Rwanda dengan staf dari etnis Kongo & menyuruh staf-staf dari Rwanda tersebut untuk kembali ke negara asal mereka.

Laurent-Desire Kabila. (Sumber)
Langkah yang dilakukan Kabila tidak sampai di situ. Lebih lanjut, ia memerintahkan pasukan Rwanda & Uganda untuk segera angkat kaki dari negaranya. Perintah Kabila tersebut mengejutkan Rwanda & Uganda yang melihat Kabila mulai berani berseberangan dengan mereka. Maka, tak lama kemudian pihak Rwanda & Uganda mulai berusaha merongrong rezim Kabila dengan cara mengompori etnis Banyamulenge - etnis di RDK timur yang memang memiliki kedekatan dengan etnis Tutsi - untuk melakukan pemberontakan. Kebetulan etnis Banyamulenge sejak lama memang memiliki hubungan yang kurang baik dengan pemerintah pusat RDK beserta etnis-etnis lain di RDK timur.


NB:
Negara Republik Demokratik Kongo secara singkat memang bisa dipanggil dengan sebutan Kongo, namun dalam artikel ini saya akan memakai nama Republik Demokratik Kongo (RDK) karena di kawasan Afrika tengah, ada 2 negara yang memakai nama Kongo : Republik Kongo yang beribukota di Brazzavile & Republik Demokratik Kongo (RDK) yang beribukota di Kinshasa.



PERANG KONGO II (1998-2003)

Timbulnya Pemberontakan

Tanggal 2 Agustus 1998, komunitas Banyamulenge membentuk kelompok pemberontak anti-Kabila yang bernama Rassemblement Congolais pour la Democratie (RCD; Pekumpulan untuk Demokrasi Kongo) & melakukan pemberontakan di kota Goma, RDK timur. Dalam aksi pemberontakan tersebut, pemerintah Rwanda & Uganda juga mengirimkan pasukannya untuk membantu pasukan RCD. Pasukan gabungan baru yang anti-Kabila tersebut dalam waktu relatif singkat berhasil merebut kota-kota penting di RDK timur seperti Bukavu & Uvira.

Peta dari Republik Demokratik Kongo. (Sumber)
Kabila yang terkejut akan aksi pemberontakan tersebut lalu membentuk kelompok milisi baru bernama Mai-Mai & meminta bantuan milisi-milisi etnis Hutu yang masih bermukim di RDK untuk membantunya. Lebih lanjut, melalui stasiun radio di Bunia, RDK timur, Kabila menyuruh penduduk setempat mempersenjatai diri mereka dengan semua benda tajam yang mereka miliki untuk membunuh etnis Tutsi Rwanda. Paul Kagame selaku pemimpin Rwanda lantas meresponnya dengan menyatakan bahwa Kabila berencana melakukan genosida terhadap etnis Tutsi sambil menyatakan bahwa wilayah timur RDK secara historis merupakan bagian dari wilayah Rwanda.

Alur perang yang terjadi kembali meniru alur Perang Kongo Pertama. Pasukan gabungan anti-pemerintah RDK bergerak perlahan tapi pasti ke arah Kinshasa, sementara pasukan RDK berusaha menghentikan pergerakan mereka dengan susah payah. Namun bedanya, jika di Perang Kongo Pertama penduduk lokal membantu pasukan anti-pemerintah, kali ini mereka bahu membahu untuk menahan laju pasukan anti-pemerintah. Dalam periode yang kurang lebih bersamaan, Uganda juga membentuk kelompok milisi baru bernama Mouvement pour la Liberation du Congo (MLC; Gerakan Pembebasan Kongo).


Dimulainya "Perang Dunia Versi Afrika"

Situasi perang yang semakin runyam membuat Kabila pergi keluar RDK untuk meminta bantuan negara-negara asing. Diplomasinya membuahkan hasil di mana 4 negara Afrika setuju untuk mengirimkan pasukan bantuan ke RDK : Angola, Chad, Namibia, & Zimbabwe. Selain keempat negara tersebut, Libya juga membantu menyediakan pesawat untuk mengangkut pasukan dari negara Afrika lain ke RDK. Sudan juga menyatakan dukungannya kepada RDK, namun dukungan yang mereka berikan berupa bantuan kepada kelompok milisi anti-pemerintah di Uganda. Di luar Afrika, negara-negara seperti AS & Jepang juga memberikan dukungan kepada Kabila untuk mempertahankan pemerintahannya, namun enggan mengirimkan bantuan pasukan ke sana.

Datangnya pasukan multinasional Afrika ke RDK pun memulai babak baru dimulainya "perang dunia versi Afrika". Pasukan gabungan RDK, Angola, Chad, Namibia, & Zimbabwe bertempur melawan pasukan gabungan Rwanda, Uganda, & Burundi. Alur perang pun mulai berubah di mana pasukan anti-Kabila yang semula bisa bergerak perlahan tapi pasti ke arah Kinshasa dipaksa untuk mundur kembali ke wilayah timur RDK. Meskipun berhasil mencegah pasukan anti-Kabila menguasai Kinshasa, pasukan gabungan pro-Kabila sendiri gagal mengenyahkan pasukan anti-Kabila yang menguasai wilayah timur RDK.

Pasukan Zimbabwe yang baru tiba
di Kinshasa, ibukota RDK. (Sumber)
Masuknya negara-negara Afrika lain ke medan perang RDK erat kaitannya dengan kepentingan masing-masing negara di RDK. Namibia & Zimbabwe memiliki motivasi yang kurang lebih serupa : mengamankan lahan kaya mineral & logam mulia di wilayah RDK. Chad menerjunkan pasukan atas tekanan Perancis - mantan penjajah Chad  - karena RDK adalah salah satu negara berbahasa Perancis terbesar di dunia, namun Chad juga menjadi negara pertama yang mundur dari medan perang karena aksi-aksi kejahatan kemanusiaan & perampasan yang dilakukan oleh tentaranya sehingga memicu kecaman internasional.

Angola sendiri sejak Perang Kongo I memiliki kepentingan untuk memberangus milisi anti-pemerintah UNITA yang sejak permulaan perang sipil memakai wilayah RDK sebagai markasnya. Saat Mobutu masih menjadi pemimpin RDK alias Zaire, Mobutu memang sengaja memberi izin bagi UNITA untuk memakai wilayah negaranya sebagai markas karena Mobutu tidak menyukai rezim komunis yang berkuasa di Angola. Pasca tumbangnya rezim Mobutu, Angola tidak yakin dengan kapasitas pemerintah baru RDK untuk menghentikan aktivitas UNITA sehingga Angola kembali mengirim pasukan ke RDK untuk membantu pemerintah setempat. Selama Perang Kongo Kedua, pasukan Angola yang memiliki pengalaman tempur puluhan tahun sebagai akibat dari perang sipil di negaranya terbukti menjadi pasukan sekutu RDK yang paling tangguh & paling dominan dalam menentukan alur peperangan.


Buntunya Alur Peperangan

Selama perang, kedua belah
pihak juga memakai anak-anak
sebagai anggota milisi. (Sumber)
Kembali ke medan perang, situasi perang yang menemui jalan buntu akhirnya membuat pihak-pihak yang terlibat dalam perang sepakat untuk berunding. Melalui perundingan yang diadakan di Lusaka, Zambia, pada bulan Juni 1999, keenam negara yang terlibat dalam konflik (RDK, Angola, Namibia, Zimbabwe, Rwanda, & Uganda) sepakat untuk mengakhiri konflik bersenjata. Kendati demikian, perang dalam skala kecil masih terus terjadi antara milisi pro-Kabila melawan milisi anti-Kabila di mana masing-masing milisi didukung oleh negara-negara yang terlibat dalam perang. Di sisi lain, Kabila juga dikritik oleh dunia internasional karena tindakannya dalam membatasi penerjunan pasukan PBB & menghambat proses pembicaraan untuk membentuk pemerintahan transisi di RDK.

Bulan Agustus 1999, terjadi konflik di Kisangani antara pasukan Rwanda dengan pasukan Uganda yang selama ini bersekutu. Konflik tersebut konon dilatar belakangi oleh perebutan wilayah kaya mineral & logam mulia di wilayah timur RDK. Konflik antara keduanya berakhir setelah keduanya sepakat untuk berdamai melalui perundingan yang difasilitasi oleh PBB & keduanya pun menarik mundur pasukannya dari Kisangani pada pertengahan tahun 2000. Meskipun pada akhirnya berdamai, konflik yang muncul antara keduanya menandakan adanya keretakan di tubuh koalisi anti-Kabila sehingga mereka tidak punya cukup kekuatan lagi untuk memenangkan pertempuran.

Secara umum, konflik yang terjadi sepanjang Perang Kongo Kedua jarang berupa pertempuran-pertempuran besar & lebih didominasi pertempuran-pertempuran gerilya karena masing-masing negara tidak mau mengorbankan personil maupun alutsista berharganya untuk gugur di RDK. Sebagai gantinya, mereka menyokong kelompok-kelompok milisi untuk bertempur melawan kelompok milisi yang disokong lawan. Pasukan militer dari masing-masing negara sendiri lebih banyak ditempatkan secara pasif di titik-titik penting seperti kota besar, bandara, atau area pertambangan. Hal itulah yang kemungkinan besar menjadi penyebab mengapa tidak ada perubahan-perubahan penting di medan perang.

Iring-iringan tentara keamanan PBB. (Sumber)
Perang Kongo Kedua juga menjadi arena bagi aksi-aksi kejahatan kemanusiaan terhadap etnis lokal Pygmi. Penyebab kenapa etnis tersebut menjadi fokus perhatian adalah karena selama perang berlangsung, para pasukan dari kedua belah pihak melakukan penyerangan secara sengaja ke pemukiman mereka, melakukan pelecehan seksual terhadap wanitanya, & bahkan memakan dagingnya karena mereka percaya daging orang Pygmi bisa memberikan kekuatan magis. Meskipun kedua belah pihak diketahui sama-sama melakukan kegiatan mengerikan tersebut, mayoritasnya dilakukan oleh pasukan anti-Kabila di wilayah timur RDK.


Terbunuhnya Kabila & Perkembangan Perundingan Damai

Tanggal 16 Januari 2001, terjadi peristiwa penembakan terhadap Kabila yang akhirnya merenggut nyawanya setelah ia sempat dirawat selama 2 hari. Berbagai dugaan & tuduhan lalu muncul ke permukaan mengenai siapa yang mendalangi pembunuhan Kabila. Posisi lowong Laurent-Desire Kabila kemudian digantikan oleh putranya, Joseph Kabila. Berbeda dengan ayahnya, Joseph Kabila cenderung lebih lunak & kooperatif dibanding ayahnya sehingga perundingan-perundingan yang selama ini menemui jalan buntu pun mulai menemukan titik terang. Di tahun ini, tim pengawas PBB juga melaporkan adanya aktivitas eksploitasi mineral secara ilegal oleh Rwanda, Uganda, & Zimbabwe di sejumlah wilayah RDK.

Joseph Kabila. (Sumber)
Tahun 2002, kondisi kubu anti-Kabila semakin melemah setelah sejumlah besar tentara Rwanda melakukan desersi atau membelot ke kubu pro-Kabila. Milisi-milisi dari etnis Banyamulenge yang selama ini menjadi milisi anti-Kabila yang paling dominan juga mulai menghentikan aktivitas perangnya karena lelah akan konflik yang tidak jelas kapan akan berakhirnya. Di lain pihak, kondisi RDK di bawah pemerintahan Joseph Kabila juga semakin mantap menyusul keberhasilannya menstabilkan kondisi wilayah RDK barat & keberadaan pasukan perdamaian internasional di sana sejak tahun 2001.

Setelah melalui perundingan damai yang alot & panjang, Joseph Kabila akhirnya setuju untuk berbagi kekuasaan dengan kelompok pemberontak dalam pemerintahan (power-shared government) pada akhir tahun 2002 melalui apa yang dikenal sebagai Persetujuan Pretoria (Pretoria Accord). Hasil dari perundingan itu kemudian dilaksanakan pada bulan Juni 2003 melalui pembentukan pemerintahan transisi RDK di mana pemerintahan tersebut bertanggung jawab atas segala urusan nasional RDK hingga diadakan pemilu untuk mendapatkan pemimpin baru RDK. Pembentukan pemerintahan transisi tersebut lalu diikuti dengan penarikan mundur semua pasukan negara-negara Afrika yang terlibat perang, kecuali Rwanda. Sejak itu, bisa dikatakan Perang Kongo Kedua secara resmi sudah berakhir.



KONDISI PASCA PERANG

Pemilu untuk menentukan pemimpin baru RDK secara demokratis akhirnya dilaksanakan pada bulan Juni 2006 di mana Joseph Kabila keluar sebagai pemenang, namun kerusuhan timbul tak lama kemudian setelah munculnya isu bahwa Kabila melakukan kecurangan. Pemilu ulang pun kembali dilaksanakan di bulan Oktober 2006 di mana Kabila kembali keluar sebagai pemenang, namun kali ini dengan perolehan suara yang lebih besar. Kendati hasil pemilu tersebut masih menuai rasa tidak puas dari pihak oposisi, Joseph Kabila pada akhirnya resmi diangkat sebagai presiden RDK terhitung sejak akhir 2006. Diangkatnya Kabila sebagai presiden RDK pun mengakhiri aktivitas pemerintahan transisi yang terbentuk sejak tahun 2003.

Kendati Perang Kongo Kedua sudah resmi berakhir sejak tahun 2003, konflik di RDK belum benar-benar usai hingga sekarang. Masih rapuhnya pemerintahan baru RDK & ketergantungan mereka akan keberadaan pasukan asing menjadi penyebab utama kenapa konflik lokal tersebut masih belum selesai hingga sekarang. Contoh konflik utama yang masih terjadi di RDK hingga sekarang adalah konflik di wilayah RDK timur antara milisi pro etnis Hutu melawan milisi pro etnis Tutsi. Belakangan, konflik di timur RDK juga memasuki fase baru setelah kelompok pemberontak Lord's Resistance Army (LRA; Tentara Perlawanan Tuhan) yang berasal dari Uganda mendirikan markas baru di pelosok timur RDK & menyerang penduduk setempat.

Penduduk RDK sedang mengungsi. (Sumber)
Perang Kongo Kedua juga membawa dampak serius bagi kerusakan lingkungan setempat, terutama bagi kehidupan satwa-satwa ekstotis Afrika di kawasan RDK. Sebabnya tidak lain karena selama konflik, para prajurit yang terlibat dalam perang sengaja memburu satwa-satwa di kawasan tersebut, entah untuk diambil dagingnya atau untuk dijual lagi. Hal tersebut juga diperparah oleh aktivitas pembabatan hutan & perusakan habitat yang masih sering terjadi. Dikhawatirkan bila tidak ada tindakan antisipasi dari pemerintah setempat, fauna-fauna penting seperti gorila & gajah Afrika yang ada di sana akan punah dalam waktu singkat.

Dampak negatif dari Perang Kongo Kedua yang paling terasa adalah timbulnya korban jiwa di mana selama periode perang, jumlah korban tewas mencapai 3 juta lebih & 2 juta lainnya yang masih hidup mengungsi keluar RDK. Jumlah korban tewas juga belum sampai di situ karena hancurnya fasilitas-fasilitas penting akibat perang menyebabkan sekitar 45.000 rakyat RDK meninggal setiap bulannya hingga sekarang akibat penyakit atau kelaparan. Karena besarnya jumlah korban & dampak negatif jangka panjang yang ditimbulkan, Perang Kongo Kedua kerap disebut-sebut sebagai tragedi kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II.

Masalah besar lainnya yang masih menghantui penduduk Kongo hingga sekarang - utamanya wanita - adalah maraknya kasus kejahatan seksual. Milisi-milisi di RDK yang masih aktif sering melakukan aksi-aksi pemerkosaan kepada penduduk sipil dengan berbagai tujuan, salah satunya untuk menyebarkan penyakit menular seksual secara sengaja kepada para korbannya. Akibatnya sungguh menyedihkan karena para korban pemerkosaan tersebut harus menanggung aib & mengalami trauma mendalam. Seolah itu belum cukup, banyak dari mereka yang kemudian dikucilkan oleh penduduk sekitarnya.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG FASE II

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1998 - 2003
    - Lokasi : Republik Demokratik Kongo

2. Pihak yang Bertempur
    (Grup)  -  Mai-Mai, milisi-milisi pro Hutu
    (Negara)  -  Angola, Chad, Namibia, RD Kongo, Zimbabwe
            melawan
    (Grup)  -  MLC, RCD, milisi-milisi pro Tutsi
    (Negara)  -  Burundi, Rwanda, Uganda

3. Hasil Akhir
    - Perang berakhir tanpa pemenang
    - Pembentukan pemerintahan transisi sementara di RD Kongo
    - Konflik skala kecil berlanjut di timur RD Kongo

4. Korban Jiwa
    Sekitar 5,4 juta



REFERENSI

BBC News - Timeline : DR Congo Conflict
GlobalSecurity.org - Congo War
Pikiran Rakyat Online - Perkosaan Jadi Senjata Perang
UN News Centre - DR Congo : UN Alarmed by Upsurge of Attacks by LRA Insurgents
Wikipedia - Democratic Republic of the Congo
Wikipedia - Second Congo War


            
COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

4 komentar:

  1. Terlepas dari panjangnya masa bhakti misi PBB, perang ini juga bergantung dari keseriusan DK PBB dan Perancis (terlepas dari faksi yang bertikai).. harus diakui bahwa banyak konflik dibiarkan terus berjalan 'on-going' karena memang banyak pihak yang berkepentingan dan diuntungkan dari konflik terbuka ini.. perihal serupa adalah perang dan misi PBB di Lebanon..

    Salam hangat dari Baghdad, Iraq.. kita juga sedang berjaga-jaga disini..

    BalasHapus
  2. Memang yg menjadi salah satu masalah utama dalam menangani konflik multinasional adalah keterlibatan & keseriusan pihak asing dalam mengakhiri konflik. Apakagi Kongo itu juga termasuk menggiurkan bagi pihak-pihak yg berkepentingan karena letaknya yg tepat ada di tengah-tengah Afrika sehingga tergolong strategis & tanahnya juga kaya akan batu mulia. Belum ditambah bahwa selama konflik berlangsung, pedagang senjata juga bakal meraup keuntungan. Tapi semoga saja bisa segera ditemukan win-win solution bagi pihak-pihak yg bertikai agar segera mengakhiri aksi-aksi bersenjatanya sehingga Kongo bisa segera fokus untuk bangkit kembali & meningkatkan kesejahteraan rakyatnya

    Salam hangat juga dari Indonesia & terima kasih sudah mampir di sini. Semoga tidak ada halangan saat bertugas & semua yg bertugas di sana diberi keselamatam

    BalasHapus
  3. serem afrika itu, coba saja sekarang di pantai gading rumah2 penduduk sudah ditandai sesuai golongan etnisnya

    bakal ada pembersihan etnis alias genosida :(

    BalasHapus




Silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini, selama tidak mengandung unsur pornografi, provokasi SARA, kata-kata kasar, & link berbau iklan. Bila anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel, silakan menuju "PUSAT LOGISTIK" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.